Pemimpin tidak dibuat dengan posisi yang dijabat. Namun pemimpin membuat posisi.
Ada karakteristik yang membuat pemimpin menonjol. Karakteristik ini mirip operasi
plastik agar nyaman sehingga menjadi bagian tubuh. Orang semacam ini membuat
kepemimpinan terlihat mudah. Pemimpin besar tidak harus menjadi pakar komunikasi,
penjual andal, atau bahkan humoris. Mereka punya pribadi yang menyatakan, Saya
punya integritas pribadi yang tinggi dan menghargai orang dan kehidupan. Hakekat
orang ini berasal dari siapa mereka, bukan apa yang dikatakan atau dikerjakan.
Apakah Anda dilahirkan dengan kualitas kepemimpinan atau dapatkah
memilikinya dengan belajar dan meniru? Kepemimpinan dapat diajarkan dan bahkan
dicontoh setelah orang tahu dan kagum. Namun pemimpin besar berasal dari suatu
karakter dan disiplin menjadi jenis orang yang dihargai dan dikagumi orang.
Pemimpin besar punya legalitas yang jauh lebih bagus daripada yang dimiliki
orang yang dipimpin. Ketrampilan pemimpin besar adalah memotivasi orang menjadi
pemimpin sendiri. Pemimpin besar tidak memerlukan peristiwa yang terjadi sekali-sekali.
Mungkin bisa berupa kejadian berkelanjutan di seluruh negara atau organisasi jika Anda
menyadari bahwa pemimpin besar berarti terlebih dahulu menjadi orang besar. Perbedaan
yang disorot adalah ada banyak pemimpin yang baik dan bahkan efektif. Namun dunia
perlu kebesaran dari berbagai perspektif untuk mendorong Anda keluar dari realita sukses
dan masuk ke khasanah signifikansi. Artinya, membuat bagian dunia menjadi tempat
yang lebih baik untuk tempat tinggal dan bekerja.
Meski banyak orang di dunia masih hidup miskin dan berjuang memenuhi
kebutuhan, ada banyak orang yang lebih makmur sekarang daripada sebelumnya. Sukses
seseorang memiliki berbagai tingkatan. Namun menjadi signifikan berarti lebih dari
sekadar membuat perjanjian seumur hidup atau membeli perusahaan. Artinya, Anda
harus berkontribusi untuk perkembangan umat manusia. Tempat terbaik melakukan hal
ini adalah di tempat kerja.
Karakteristik kepemimpinan berasal dari karakter dan temperamen. Keduanya
menentukan bagaimana bereaksi, apa yang dirasakan, dan bagaimana berpikir. Anda
dapat mengubah kualitas kealamian dengan menyadari bahwa perubahan itu positif dan
dengan memiliki kemauan dan keinginan untuk bertindak disiplin mengendalikan emosi.
Anda tidak harus terpaku dengan emosi yang di luar kendali atau suasana hati
yang menentukan Anda sedang tidak gembira atau cemberut. Jika Anda menyertakan
kecerdasan emosional (EQ), seperti sedang dalam penalaran, Anda dapat memupuk
karakteristik yang membentuk dasar-dasar kepemimpinan besar.
1. Penyingkapan diri
Dapat berbagi perasaan merupakan pertanda kekuatan. Sebagian pemimpin percaya
bahwa ungkapan perasaan merupakan tindakan negatif dan akan membatasi keefektifan.
Adalah benar bahwa membuat pengakuan pribadi atau memberikan informasi yang dapat
merugikan reputasi Anda atau orang lain adalah tidak bijaksana. Ada orang yang selalu mencari kesempatan mendiskreditkan kesuksesan orang lain. Pengungkapan diri berarti
mengetahui bagaimana mempresentasikan pandangan Anda yang positif dan cerah.
Orang yang dapat melakukan ini sering membuat lingkungan di mana orang lain merasa
aman mengungkapkan perasaan diri sendiri. Inilah awal persahabatan yang produktif dan
menciptakan sistem pendukung, sinergi tim, kemitraan, produktifitas, dan pemecahan
masalah. Sayangnya, banyak organisasi gagal membangun lingkungan bersuasana bisnis
yang harmonis, karena orang merasa tidak aman untuk berbagi apa yang mereka pikirkan.
2. Wawasan
Mampu mengenali pola dalam emosi dan reaksi berarti dapat mengenali kecenderungan
tertentu, baik positif atau negatif. Apa yang Anda lakukan dengan pengetahuan ini akan
menentukan tingkatan komitmen terhadap perubahan. Seringkali, Anda tidak menyadari
cara menaklukkan diri saat menghadapi orang, khususnya ketika menghadapi situasi yang
penuh emosi. Semakin terampil mengenali pola respon yang sejenis, semakin bagus Anda
dapat mengoreksi atau menyempurnakan. Komplemen wawasan pribadi adalah kapasitas
mengenali pola orang lain. Ini dapat memicu perbandingan yang mempermudah
menangani kebutuhan emosi orang dan mengetahui bagaimana memecahkan
permasalahan.
3. Tanggung Jawab Pribadi
Memberikan wejangan yang memotivasi merupakan cara menaikkan potensi karyawan
dan mengejawantahkan misi organisasi. Bahkan jika tidak ada tindak lanjut pun, cara ini
sebetulnya tidak akan mengurangi kekuasaan. Namun, pemimpin akan kehilangan
kharisma jika tidak menepati janji. Karyawan dan pelanggan tidak lagi mudah dibodohi
dengan retorika dan kharisma. Mereka menginginkan tindakan. Merealisasikan berarti
memiliki tanggung jawab pribadi untuk menggapai hasil. Banyak pemimpin sekarang
mengharapkan perubahan dan menuntut hasil, tetapi tidak berpartisipasi dalam berusaha
dan tidak diperhitungkan dalam menentukan kesuksesan perusahaan. Bos semacam ini
perlu umpan balik dan duduk bersama dalam membuat keputusan. Pemimpin sekarang
perlu terlibat aktif dan bertanggung jawab terhadap proses pengembangan dan implemen-
tasi. Pemimpin yang selalu terlibat aktif dan tertarik ikut andil dalam proses perubahan
dan ingin mengetahui bagaimana dampaknya terhadap karyawan biasanya selalu
mendambakan hasil yang positif.
4. Agen Perubahan
Menjadi agen perubahan berarti memacu berbagi gagasan, perasaan, dan informasi yang
meningkatkan produktifitas. Dengan demikian membuahkan pemahaman dua arah yang
jujur. Dengan perspektif ini, tidak ada konsekuensi negatif untuk berbicara dengan jujur.
Membangun kepercayaan merupakan unsur penting dalam berinteraksi. Berbagi perasaan
tanpa marah atau menyalahkan orang lain merupakan langkah penting ke arah
rekonsiliasi. Dalam berbagai diskusi, debat atau negosiasi, harus ada sinergi emosi untuk
menstabilkan suasana hati dan nada pembicaraan. Jika seseorang marah dan berbicara
terus tanpa berhenti, peluang menyelesaikan pertentangan atau konflik sangat tipis. Pemimpin otokratis tidak mengijinkan orang lain mengungkapkan pernyataan dengan
jujur. Ketika menghadapi orang jenis pemimpin ini, karyawan akan menyembunyikan
informasi, mengatakan apa yang menyenangkan dan selalu takut terhadap hasil akhir.
Ketidakjujuran semacam ini akan memicu dua masalah yang destruktif. Yakni:
1). Ketika karyawan merasa tidak diberdayakan, mereka tidak efektif dalam
memberikan pandangan. Karyawan cenderung takut dan tidak tergoda dengan aktifitas
baru atau yang inovatif.
2). Ketika karyawan dirundung stres dan kecemasan, biasanya tidak sehat dan tidak
produktif.
5. Pengembang
Pengembang adalah pembuat konsensus dan pemerjelas pemahaman. Mereka tahu kapan
mendengarkan, empati, berbicara, dan memberikan pengarahan. Mereka punya
kombinasi yang seimbang antara asertif dan ketenangan. Pengembang percaya bahwa
setiap orang punya hak mengungkapkan pendapat dan perbedaan merupakan kualitas
positif suatu organisasi.
6. Pemegang Saham
Pemimpin dengan sikap pemegang saham memberikan karyawan peluang berbagi rasa
dalam kesuksesan dan tantangan organisasi. Karyawan diberikan saham beban untuk
merealisasikan misi perusahaan dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka
lakukan. Pemimpin dengan mental seperti ini tahu bagaimana mendelegasikan dan
memberikan peluang kepada karyawan untuk menyumbangkan kreatifitas kepada suatu
posisi. Dalam lingkungan semacam ini, orang merasa memiliki perusahaan dan akan
bekerja sebaik-baiknya.
7. Ketrampilan Mengatasi Stres
Ada banyak manfaat dalam kepemimpinan, namun juga banyak tekanan dan stres.
Mengatasi kekompleksan masalah, isu, dan tuntutan pemimpin abad 21 memerlukan
orang yang tahu bagaimana mengendalikan emosi.
Ada empat strategi yang dapat membantu mengendalikan emosi:
1). Meluangkan waktu untuk memeriksa realita perilaku dan sikap. Tanyakan kepada
diri sendiri:
Bagaimana saya memperlakukan karyawan?
Bagaimana perasaan saya sekarang, pekerjaan, dan tantangan dalam hidup
saya?
Apakah saya sering marah?
Apakah saya mau mendengarkan?
Apakah saya capai?
Kapan terakhir kali mengerjakan sesuatu yang benar-benar saya sukai dan yang
membuat rileks?
Apakah saya menelantarkan keluarga?
Jika tahu bahwa Anda memberikan tanggapan yang kurang memadai kepada pertanyaan
di atas, tibalah saatnya untuk berhenti dan melakukan hal baru. Anda perlu memfokuskan
diri dengan sungguh-sungguh dan seksama untuk mengubah perilaku diri sendiri dan car
mendayagunakan waktu. Seringkali, pemimpin bilang tidak punya waktu. Pada
kenyataannya, yang menjadi masalah bukan waktu, tetapi prioritas. Jika klien potensial
yang bisa mendatangkan keuntungan 4 triliun dollar memanggil Anda pada saat-saat
menjelang akhir hari kerja yang sibuk, itulah waktu untuk bertemu dengan klien.
2). Perhatikan kesehatan, keluarga, dan waktu rileks sebagai aset lima triliun dollar
yang harus diperhitungkan setiap hari. Ketrampilan yang perlu dimiliki dalam hal ini
antara lain:
* dapat mengenali kapan Anda capai dan terlalu banyak beban kerja.
* dapat mengenali emosi dan menyesuaikan perilaku.
* dapat menyisihkan waktu dari tekanan kerja dan dapat rileks.
* dapat percaya kepada teman yang diajak berbicara dan diskusi. Hal ini sulit dilakukan
laki-laki, namun sangat penting untuk kondisi tertentu.
* dapat menerima umpan balik dari kolega yang loyal yang bertindak sebagai barometer
dalam menghadapi tekanan kerja. Sebagian karyawan sangat pintar menyesuaikan
suasana hati pemimpin. Pengetahuan karyawan semacam ini sangat membantu bos dalam
memberikan ruang gerak restrukturisasi kelompok.
3). Mengurangi tekanan yang dibebankan kepada diri sendiri. Seringkali jabatan
pemimpin menjadi musuh terburuk bagi diri sendiri. Dorongan meraih jabatan yang ia
pegang sama dengan dorongan mempelantingkan dirinya ke spiral pribadi yang
melengkung ke bawah. Tujuan utama pemimpin seharusnya menjaga keseimbangan
antara waktu pribadi dan profesional.
Ingin tetap di puncak atau tetap memegang tampuk pimpinan dapat menjadi
masalah jika Anda tidak berhati-hati dengan konsekuensi terhadap emosi dalam diri
manusia. Banyak pemimpin sekarang meninggalkan posisi papan atas di perusahaan
multinasional karena alasan pribadi. Adalah lebih baik mempersiapkan diri menghadapi
masalah daripada melakukannya nanti setelah masalah merebak. Sukses akan berdampak
fatal kepada pemimpin, jika perhatian yang memadai tidak dicurahkan untuk menjaga
keseimbangan.
4). Belajar mengenali kapan cangkir Anda penuh dan bertindak seperlunya.
Pemahaman diri dapat membantu mengidentifikasi perasaan. Mendengarkan suara hati
dapat memberitahu Anda kapan menghadapi bahaya atau kondisi kritis. Ketika Anda
merasa bahwa orang dan masalah membuat frustasi, marah dan mengganggu ekuilibrium
lebih baik mundurlah selangkah untuk menghela napas, daripada harus berkonfrontasi
dengan orang pertama yang Anda hadapi. Menyadari perasaan diri sendiri ketika stres merupakan salah satu cara menghindari perilaku yang tidak perlu, yang dapat melukai
hati orang lain.
8. Ekspresi
Pernyataan Bukan apa yang Anda katakan, tetapi bagaimana Anda mengatakan bahwa
sesuatu selalu diperhitungkan memang benar adanya. Apa yang Anda katakan bisa
membuat perbedaan hubungan antar pribadi. Misalnya, jika Anda memberitahu karyawan
bahwa ia dipecat, apa pun nada Anda dalam mengucapkan kalimat ini, maknanya masih
sama. Bentuk ungkapan, derajat empati, dan pertimbangan terhadap seseorang dapat
membuat respon orang lain berbeda. Contoh pernyataan EQ:
Adalah sulit bagi saya untuk mengatakan Anda demikian meskipun kita menghargai
darma bakti Anda di masa lalu. Sayangnya, berhubung proyek ini kurang dana, kami
tidak dapat mempertahankan gaji Anda. Kami terpaksa harus mencari kemungkinan lain.
Namun usaha kami sia-sia sehingga terpaksa meniadakan posisi Anda. Saya akan senang
hati membantu Anda mencari pekerjaan lain dan akan mengupayakan memberikan surat
rekomendasi.
Bagaimana Anda mengekspresikan diri bagaikan es di atas kue dan dapat menjadi
faktor penentu apakah sukses atau gagal dalam menghadapi situasi sulit. Ungkapan
terima kasih yang singkat dan tulus atas darma bakti karyawan dalam bentuk tawaran
memberikan rekomendasi memungkinkan karyawan tahu bahwa keputusan tidak dapat
dihindari dan Anda sangat menaruh perhatian terhadapnya.
Bahkan memperingatkan kepada karyawan atas perbuatannya yang tidak pantas
masih dapat dilakukan tanpa merusak karakter orang yang masih dalam proses.
Ketegasan dan pengarahan dapat diterapkan ketika mempertimbangkan perasaan
karyawan. Cara yang positif untuk mengungkapkan perasaan adalah dengan berikut ini:
* menghargai seseorang
* empati terhadap situasi
* memfokuskan pada masalah, bukan pada pribadi
* jelas dan jujur
* mengalokasikan waktu untuk menerima umpan balik dari seseorang
Puisi dan drama selalu dimulai dengan kata-kata yang ditulis di suatu halaman. Apa yang
membuatnya tampak hidup adalah emosi yang dimainkan dan penyesuaian perasaan antar
orang. Demikian juga dalam kehidupan. Cara kita mengungkapkan diri sendiri
membayangi pesan yang disampaikan. Bagi pemimpin, bentuk ekspresi yang digunakan
untuk menghadapi orang sangat penting, khususnya terhadap citra dan jenis organisasi
yang ingin dibangun. Pilihan kata sepenting ekspresi. Perpaduan yang selaras antara
kedua pihak merupakan keharusan dalam membuat pemimpin EQ.
9. Menjinakkan Anomi Perusahaan
Anomi dalam organisasi diukur dengan indikator licik yang menunjukkan bahwa ada
cacat tujuan, identitas, nilai, dan kondisi yang menyebabkan kekurangan atau kegagalan
dalam menjalankan tugas. Anomi mungkin terkesan seperti zona perang. Tetapi anomi
semakin menjadi-jadi di berbagai jenjang organisasi dewasa ini. Visi atau nilai inti yang
tidak dijunjung bersama punya makna yang tak berarti bagi orang yang bukan
memberikan otoritas kepadanya.
Kode etik yang universal tidak akan berlaku jika selalu tidak dijadikan rujukan.
Akar dari semua permasalahan adalah jenjang kepemimpinan di mana masalah seringkali
muncul.
Menjinakkan anomi perusahaan berarti:
* memimpin dengan konsisten, jujur, dan penuh integritas.
* berbagi visi jenis lingkungan yang harus ada untuk semua karyawan dan yang akan
dipakai untuk merealisasikan misi perusahaan.
* mencontoh jenis perilaku yang dapat diterima dan menunjukkan bagaimana
menghindari perilaku perusahaan yang menyimpang.
* membangun tim yang sinergis di mana harmonisasi emosi dan sudut pandang
digalakkan dan konsensus dapat dibuat.
* menciptakan nilai inti yang sesuai dengan aspirasi individu.
* menciptakan sistem pemeriksa dan penyeimbang pengatur emosi sehingga marah,
intimidasi, balas dendam, dan tidak hormat, tidak akan tumbuh subur.
10. Harmoni
Karakteristik kepemimpinan EQ adalah mau menciptakan harmoni di tempat kerja.
Artinya, di setiap jenjang terdapat:
* hubungan dan persetujuan bagaimana setiap orang diperlakukan.
* peluang untuk interaksi profesional dan pribadi.
* proses tim untuk menyalurkan aspirasi pribadi dan tujuan profesional.
* prosedur resolusi yang mengkaitkan pekerjaan untuk membuat konsensus.
* berbagi tanggung jawab misi dan nilai dalam organisasi.
Pengertian menciptakan harmoni adalah salah satu usaha paling penting dalam
organisasi, namun sering diabaikan. Menciptakan harmoni merupakan tugas yang paling
sulit dicapai karena ada perbedaan agenda, kepribadian, kebutuhan, dan tantangan. Meski
perlu usaha dan konsentrasi untuk menciptakan atmosfir yang harmonis, usaha
menciptakan keharmonisan merupakan tujuan paling mulia. Ketika ada harmonisasi,
lingkungan kerja bagaikan lingkungan yang mengagumkan. Di mana semua usaha
dinamis menyatu untuk menggapai kebaikan bersama. Tidak ada satu bintang, tetapi
banyak bintang individu yang menambahkan bakat ke pengembangan mega bintang
(superstar) yang mengejawantahkan kesuksesan organisasi.
ESQ Ari Ginanjar
No comments:
Post a Comment